Rabu, 07 Oktober 2015

Mau Nyantai Bersama Keluarga, Negeri Baru Resort Tempatnya



Negeri Baru Resort (NBR), salah satu Wahana rekreasi yang tampil beda dengan tempat rekreasi lainnya di Provinsi Lampung ini. Pasalnya bentuk bangunan yang tersedia lebih kearah rumah tradisionil adat Lampung, sehingga nilai nilai budaya Lampung tetap terjaga.

Bagi para keluarga yang ingin menghilangkan rasa penat karena kesibukanerja sehari-hari, bisa bersantai bersama keluarga, karena kami juga menyiapkan permainan air untuk anak-anak kesayangan anda, mereka bisa bermain swanboat, atau yang ingin berenang, telah tersedia kolam renang anak anak, sehinga mereka akan merasa senang bermain di tempat ini.


Sedangkan bagi anak anak remaja, yang ingin mengelilingi kanal seputar NBR, bisa menggunakan speedboat yang memang telah disediakan di tempat ini, sebagai fasilitas yang berbeda dengan tempat rekreasi yang lainnya.

Perlahan namun pasti, NBR akan terus dikembangkan, melihat prospeknya yang sangat cerah, maka pemiliknyapun terus meningkatkan fasilitasnya, seperti penambahan fasilitas seperti waterboom,saat ini sudah mulai operasional.

Selain itu penambahan fasilitas lainnya adalah akan dibuatnya lapangan golf mini, sehingga bagai para tamu eksekutif yang ingin bermain golf, tidak perlu keluar dari lokasi ini. “Kami akan selalu tampil yang terbaik buat pengunjungnya,”hal ini diungkapkan General Manager A.Thamrin ketika diwawancarai di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

“Saat ini kami juga telah menyediakan Restoran, dimana sebelumnya para pengunjung bila menginginkan makanan dan minuman dipesan dari luar, namun saat ini kami telah memiliki Cheef sendiri, sehingga kami dapat memberikan pelayanan apa yang dipesan oleh para pengunjung, ” Jelas Manager yang telah melanglang ke berbagai daerah ini penuh antusias.

Bagi yang ingin menyelenggarakan meeting, kami punya dua tempat yang cukup maksimal untuk acara acara kantor, dimana segala fasilitas yang akan digunakan telah kami siapkan di tempat tersebut.

“Terus terang kami sangat merasa senang, ketika mendengar ditariknya surat edaran yang melarang para PNS untuk melakukan aktivitas di Hotel, dengan demikian kami bisa bernapas lega, dimana sebelumnya terasa sangat berat, jangan lagi mencari untung, bisa operasional setiap haripun sudah baik,”ungkapnya senang.

Bicara hotel, NBR memiliki 2 type room hotel, 28 kamar superior cottage, masing masing adalah : 1. Terdiri dari 3 kelompok cottage:
Sebuku memiliki 5 cottage, utuk percottagenya ada yang memiliki 2 kamar tidur dan ada yang 3 kamar tidur. Sebesi Cottage terdiri dari Sebesi 1, 2 dan 3, masing masing cottage memiliki 2 kamar tidur.


Sedangkan untuk Krakatau Cottage terdiri dari 5 buah cottage, namun untuk Krakatau Cottage 1, 2 dan 3 memili kitchen sendiri, bagi yang senang memasak dapat menyewa perlengkapan memasak yang telah tersedia di tempat tersebut. Sedangkan untuk Krakatau Cottage 4 dan 5 tidak memili kitchen.

Program ke depan yang tengah dikembangkan oleh management NBR adalah, NBR akan menyiapkan paket Ulang tahun baik bagi perorangan, grup, instansi swasta maupun komunitas. Seminar Weeding, Gathering dan wisuda sarjana, maupun berbagai jenis party lainnya, kapasitas tempat yang tersedia cukup besar, dapat menampung pengunjung sekitar 1200 orang. Sedangkan areal parker yang tersedia cukup luas, sehingga lokasi ini sangat layak untuk menyelenggarakan even even besar.

Jumlah pengunjung di NBR, akhir akhir ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dari sebelumnya, namun demikian pengunjung dari Lampung masih dalam urutan teratas, baru dari provinsi lain, seperti Jakarta, bahkan dari TV Trans 7 pun telah hadir ke tempat ini untuk melakukan survey, karena dianggap Lampung cukup dekat dengan Jakarta.

Sisi lainnya adalah NBR berada dalam jalur lintas Trans Sumatra, sehingga siapa saja dapat singgah ke tempat ini tanpa mengalami kesulitan untuk mencari lokasi yang cukup mewah ini.

Lebih jauh Thamrin memaparkan, cottage cottage ini dinamai cottage Menado oleh pemiliknya, sekalipun bentuknya rumah adat Lampung, psalnya bahan bahan baku untuk membuat cottage ini di datangkan dari Menado.

Ke depan akan ada penambahan 5 buah cottage lagi guna mengantisipasi lonjakan pengunjung yang hadir ke tempat ini. Bahkan akan dibangun gedung serba guna (GSB) di tempat ini, guna menampung berbagai acara yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, swasta maupun komunitas di tempat ini.

Rate and Facilities
Deluxe Rp 450.000,-
Superior Rp 500.000,-

Cottage :
Sebuku 2 rooms Rp 1.200.000,-
Sebuku 3 rooms Rp 2.000.000,-

Sebesi 2 rooms Rp 1.300.000,-

Krakatau 2 rooms Rp 1.500.000,-
Krakatau 3 rooms Rp 2.250.000,-
Krakatau 4 rooms Rp 2.500.000,-

Selasa, 06 Oktober 2015

Kapan Bandara Radin Inten II Dikelola Oleh PT. Angksa Pura II



Oleh : IB. Ilham Malik

Kali ini informasi yang kita dapatkan adalah soal adanya sinyal positif dari EE Mangindaan selaku Menteri Perhubungan untuk mempercepat proses pengalihan pengelolaan Bandara Raden Intan II dari Kemenhub ke Angkasa Pura. Proses pengajuan ini sudah sejak lama disampaikan ke Kemenhub. Namun karena ada proses teknis tertentu, tanggapan Kemenhub ini lamban keluarnya. Ketika Bung Ridho menjadi Gubernur Lampung dan bertemu dengan Menhub dalam salahsatu acara, Bung Ridho menyampaikan harapannya agar Kemenhub mempercepat proses pengalihan bandara tersebut. Dan disitulah Menhub menyampaikan komitmennnya untu mempercepat proses tersebut (Radar Lampung, 04 September 2014).

Masalahnya, apakah birokrasi dibawahnya akan mempercepat proses ini? Ini yang sedang kita tunggu. Biasanya responnya agak melambat. Apalagi ini soal kepentingan daerah. Apalagi jika ada yang merasa diuntungkan dengan adanya kendali bandara ditangan mereka. Untuk itu memang harus ada upaya serius untuk mempercepat proses yang ada sehingga pengelolaan bandara bisa menjadi lebih baik ketika ditangani oleh Angkasa Pura.

Angkasa pura memang memiliki kepentingan. Sulitnya pengembangan Bandara Soeta menyebabkan penjadwalan pesawat menjadi banyak yang terganggu. Karenanya dibutuhkan bandara penyangga. Telah ada upaya untuk memecah konsentrasi tujuan perjalanan penerbangan agar tidak semua pesawat dari daerah menjadikan Jakarta sebagai destinasi. Karena jika ini yang terjadi, maka itu berarti bandul penerbangan ada di Soeta. Kemanapun penerbangan itu dilakukan maka Soeta-lah akhir penerbangan pesawat. Itulah sebabnya Soeta menjadi sangat padat dan cenderung crowded seperti akhir-akhir ini.

Dengan adanya bandara-bandara penyangga ini maka diharapkan akan dapat diatur sedemikian rupa soal jadwal penerbangan dari dan ke Soeta. Istilahnya, keberadaan bandara sekitar adalah satu kesatuan dengan keberadaan Bandar Soeta. Jadi mereka berada didalam satu wilayah manajemen, yang mana jika perlu ada pengembangan khusus, bisa lebih mudah dilakukan. Jika ada yang perlu diatur agar bisa saling menopang, bisa mudah proses administrasinya karena berada didalam satu manajemen angkasa pura.

Pertanyaannya, mengapa harus ke angkasa pura, apakah tidak ada yang lain? Masalahnya hampir semua bandara di negeri ini ya dikelola oleh dua pihak yaitu angkasa Pura dan Kemenhub. Dan angkasa pura mengelola bandara yang relatif besar, strategis dan berorientasi pada kualitas dalam segala hal, sementara bandara yang dikelola Kemenhub cenderung bandara kecil dan yang diutamakan adalah fungsionalitasnya. Sehingga dalam rangka mendorong terbangunnya sebuah bandara yang lebih baik lagi dibutuhkan pengalihan pengelolaan. Pengalihan ini ya dari Kemenhub ke Angkasa Pura.

Jika ada swasta yang tertarik mengelola bandara, tentu saja akan jauh lebih baik. Sayangnya, ada banyak regulasi yang harus dipenuhi, berkas administrasi yang rumit, sebelum bisa diserahkan pada pihak swasta. Belum lagi soal dugaan-dugaan koruptif yang akan membuat pengalihan pengelolaan dari Kemenhub ke pihak swasta menjadi relatif sulit dilaksanakan. Langkah yang paling cepat adalah dengan menyerahkannya ke Angkasa Pura, sebuah perusahaan BUMN yang fokus ke bisnis pengelolaan bandara.

Lalu, apakah benar akan ada perkembangan yang signifikan jika bandara Raden Intan II kita ini diserahkan ke Angkasa Pura dari tangan Kemenhub? Tentu saja dan biasanya iya. Akan ada perkembangan yang signifikan. Paling tidak, intervensi pemda menjadi relatif lebih sulit ketimbang jika bandara ini masih dikelola oleh Kemenhub.

Sebab jika masih dikelola oleh Kemenhub maka model kerjanya atau model kerjasamanya adalah model birokrasi dan birokrat. Kita tentu sudah maklum dengan kondisi semacam itu.

Namun dengan pengelolaan bandara oleh Angkasa Pura maka setidaknya semua pengembangan dan pengelolaan yang dilakukan adalah dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada penumpang, pengantar, penjemput dan semacamnya. Dan semuanya difasilitasi agar ada rupa ada harga.

Orang tidak segan untuk mengeluarkan uang ekstra, jika memang apa yang ia dapat sesuai dengan uang yang dikeluarkannya. Dan angkasa Pura sudah paham dan biasa menjalankan bisnis semacam itu. karena organisasinya dibentuk dengan orientasi bisnis. Hal ini berbeda dengan UPTD-nya Kemenhub.

Jadi, sudah saatnya upaya-upaya strategis dilakukan secara tuntas. Oleh siapapun. Seringkali, program yang sedemikian baik ketika berbenturan dengan tantangan, tidak didiperjuangkan dengan baik. Kadang, program yang tak perlu malah progresnya menjadi sangat cepat.

Kehadiran kepala daerah baru tentu saja diharapkan akan dapat membuat perubahan baru terjadi di daerah ini. Tentu saja, wujud perubahannya adalah aparatur pemerintah mampu menjalankan hal yang penting dan baik dengan cepat, dan mampu membuat hal yang tak penting dan tak baik menjadi tak berjalan dengan baik.

Pariwisata Lampung "Hilang dari Peta”


Pariwisata Lampung,
"Hilang dari Peta”

Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi wisata unggulan seperti : Gunung Anak Krakatau, Menara Siger, yang terletak di kabupaten Lampung Selatan, Surving , Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Pesisir Barat, Sekolah gajah Way Kambas di Lampung Timur, Teluk Kiluan di Tanggamus dan Bandarlampung sebagai ibukota Provonsi Lampung.

Bicara patiwisata, Lampung saat ini masih harus berbenah diri selain infrastuktur yang menjadi kendala utama, namun sisi lain seperti promosi pariwisata Lampung juga tetlihat kurang maksimal. Sejauh ini apa yang telah dipromosikan oleh dinas terkait, yang perlu diingat pariwisata Lampung sejak tahun 1985 telah dikenal ke mancanegara, yakni dengan didirikannya sekolah gajah Way Kambas, di Lampung Timur.
Lebih dari itu ada beberapa kapal pesiar yang telah masuk ke Lampung untuk menurunkan wisatawannya, seperti Kapal Pesiar Asmara Lumba lumba dan Awani Dream. Namun demikian semua ini hilang tanpa jejak, anggaran promosi pariwisata Lampung setiap tahun terus bergulir, namun apa hendak dikata, Lampung semakin prihatin terhadap masuknya kunjungan wisatawan.
Sekolah Gajah Way Kambas, yang dulu jadi pusat kunjungan wisatawan baik ditingkat nasional maupun internasional, perlahan lahan mulai dilupakan oleh para wisatawan, Way Kambas bukan lagi tempat yang menarik untuk melakukan kunjungan wisata, karena apa yang ada di lokasi tersebut sudah sulit untuk dijadikan tontonan bagi wisatawan

Disparekraf Provinsi Lampung sebagai instansi yang bertanggungjawab atas maju dan mundurnya kepariwisataan Lampung, harus mampu memetakan pariwisata Lampung, baik ketingkat annasional maupun intetnasional.
Bagaimana program dinas dapat tersosilisasikan dengan baik, bila dinas terkait begitu apriori terhadap wartawan, sosialisasi publikasi dilakukan dinas terkait cukup satu kali saja, pada saat Fetival Krakatau berlangsung.
Sayangnya harapan tinggal harapan, program dinas yang diungulkanpun belum mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan masuk ke Lampung. Bahkan yang ada sebaliknya, para pelajar mahasiswa dan pegawai mereka melakukan study tour maupun acara kantor di luar Lampung. Inikan terkesan Pariwisata Lampung Hilang Dari “Peta”, tidak terlihat bahwa di Lampung memiliki potensi yang luar biasa, pertanyaannya sudah sejauhmana promosi yang dilakukan dinas terkait ?

Sementara bila kita melihat perkembangan pariwisata di Pulau Jawa, ini sangat luar biasa, aemua telah tetpromosikan dengan baik, sehingga wisatawan bisa berkunjung dengan rasa aman dan nyaman. Sebagai pembanding, bisa kita liat Ciater, tempat pemandian air panas, dimana pengunjung yang hadir dari berbagai penjuru nusantara, harga tiketnya terjangkau, tempatnya nyaman dan asri, c indera matanya murah meriah, wisatawan merasa senang, bahkan ada yang telah berkali kali berkunjung ke tempat ini lantaran ada kenangan yang membuat wisatawan menjadi rindu untuk datang kembali.

Selain iitu, Kebun Raya Cibodas, yang tampaknya biasa biasa saja, namun pengunjungnya membludak, begitupun objek wisata Taman Wisata Matahari yang terletak di Cipanas, kecamatan Megamendung Puncak kabupaten Bogpr, lokasi yang culup sederhana ini namun pengunjungnya berlimpah.

Bila melihat jumlah kunjungan yang berlimpah disetiap objek wisata, dampaknya masyarakat juga yang akan diuntungkan, karena wisatawan memiliki berbagai kebutuhan, seperti makan minum, tempat bermalam, dan yang tak bisa dihindarkan adalah cindera mata, dengan demikian akan tumbuh dan berkembang ekonomi pro rakyat.
Diharapkan Gubernur Lampung, M. Ridho Ficardo dapat menyikapi kondisi kepariwisataan di Provinsi Lampung ini, karena melihat 7 program unggulan Pariwisata Lampung bukan hanya sekedar program, tapi perlu realisasi yang dibutuhkan oleh wisatawan yang datang ke Lampung ini.

Kapan Pariwisata Lampung akan memiliki dampak ekonomi seperti di atas ? jawabnya hanya Tuhan yang tahu !